Aku dan Rio

Aku pertama kali berkenalan dengannya Juli 2011. Saat masa liburan bersama keluarga di Bandung. Aku berjalan bersama adikku yg masih 7 tahun di sekitaran sebuah Kampus Teknik Negeri terkenal di Bandung.

Saat aku berjalan, seorang cowok mengajakku berkenalan. Dia mengatakan namanya Rio. Rio adalah mahasiswa institut tersebut. Dia kuliah tahun ketiga. Aku pun mengobrol-ngobrol dan entah kenapa omongan kita sangat nyambung. Dia berasal dari Jakarta, sama sepertiku. Dia alumni salah satu SMA swasta terkenal di Jakarta, sehingga aku menyimpulkan dia anak orang berada.

dia menraktirku makan di depan kampusnya, dan kita bertukar pin blackberry messanger.

Sejak itu Rio sering mengajakku ngobrol via BBM maupun menelpon. Saat dia main ke Jakarta dia menyempatkan bertemu aku dan sekedar makan atau nonton. Sampai Oktober 2011 dia menyatakan cintanya dan ingin menjadikan aku pacar. AKu menerimanya,

Tapi dia tidak mau memasang status “In Relationship” di facebooknya, dengan alasan tidak boleh berpacaran oleh orang tuanya (padahal dia sudah hampir 21 tahun), dan aku menerima itu.

Jujur kadang kadang aku cemburu dan khawatir. Di bandung, banyak cewek-cewek cantik yang mungkin membuat Rio tergoda, tapi aku selalu berusaha percaya.

November 2011, saat rio ulangtahun aku ingin memberikan surprise, aku datang ke tempat kost-annya tanpa bilang, ketika sampai di depan aku menelpon Rio dan memintanya keluar, akhirnya dia keluar dan mempersilahkan aku masuk.

Tapi aku menyadari sesuatu, di leher nya ada bekas, seperti bekas cupang-an, walaupun tertutup kerah kemeja, tapi bekas itu terlihat cukup jelas. Aku pun menyibak kerah kemeja Rio dan menyatakan itu apa. Dia mengatakan kalau itu digigit serangga, tapi aku cukup tahu bahwa itu adalah bekas cupang. Mungkinkan ada cewek lain?

Saat Rio sedang menyiapkan mobil, aku memberanikan diri melihat BB nya dan menemukan foto mesra Rio dengan cewek lain. Suasana berubah dan aku marah ke Rio. Aku pergi meninggalkan kost-an dia.

Setelah kudiamkan berberapa lama, Aku mengangkat telepon dari Rio, dan dia mengajak bertemu untuk meminta maaf karena sudah khilaf. Aku memaafkan Rio.

Suatu hari, aku menelpon Rio jam 1 pagi, sepertinya dia sedang tidur, dan dia menyapaku “kenapa reee? kamu kok nelpon aku malem-malem sayaang” aku langsung tertegun, namaku bukan Reee atau rere atau siapapun itu. Aku berteriak di telpon dengan kesal. Tak lama kemudia Rio menelpon dan menjelaskan itu hanya salah paham, dia hanya salah menyebut namaku, karena sedang sering mengerjakan tugas bersama Rere, temannya.

Aku masih mencoba mempercayai Rio. Sampai sekitar bulan Maret 2012, aku ingin memberikan kunjungan surprise untuk Rio, karena dia sudah lama tidak ke Jakarta.

Sekitar jam 7 pagi aku datang ke kost-annya, langsung masuk mengetok kamarnya. Rio keluar dengan pakaian rapi, polo shirt dan jeans nya, terlihat ia ingin pergi. Muka Rio memerah dan dia salting. “sayang kok ga bilang dulu” dan aku langsung kaget ketika melihat seorang cewek hanya mengenakan handuk keluar dari kamar mandi di kamar kosan Rio. aku tertegun dan lebih kaget lagi ketika melihat kondom bekas pakai di pinggir kasur Rio.

Aku refleks menampar Rio dan ingin pergi, tapi Rio menarik ku masuk ke kamar nya, tenaga laki lakinya lebih kuat dariku, dan aku pun menangis di kamarnya. Rio menyuruh cewek laknat itu pulang, aku hanya menangis dan tidak berbicara pada Rio. Aku tidak tahan dan menampar rio, lalu berusaha pergi. Namun Rio malah menyalahkanku, dan membela dirinya, menyatakan kalau dia sebagai seorang laki laki, butuh sosok wanita di Bandung, tempat ia tinggal sekarang, dan aku dipaksa menerima itu.

Aku tidak bisa terima dan minta putus, tapi tanganya mencengkram aku dengan keras sehingga aku tidak bisa keluar. Aku menangis dan dia tetap menahan tanganku, Aku berteriak berharap ada penjaga yang mendengar, tapi tidak ada yang masuk, akhirnya aku kesal dan menendang Rio.

Tendangan ku tidak sengaja mengenai bagian “kelemahan lelaki” nya, tendanganku cukup keras sehingga dia melepas tanganku dan memegangi “bagian privat”nya dengan wajah kesakitan, aku berteriak dan pergi sambil menangis. Rio terkapar di kamarnya, berguling memegangi “kelemahannya” dan tidak bisa mengejar. Aku menghapus bbm dia, dan tidak berhubungan lagi dengan dia.

Aku sedih tapi aku harus bisa menerima bahwa Rio bukan pria baik, dia mulai menghubungi ku lagi, tapi aku masih belum memberikan respon apapun. tapi aku masih suka sedih dan menginginkan rio kembali, walaupun itu tak mungkin, aku tidak ingin menjadi cewek bodoh

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.