Ini kisah tentang dua geng yang sedang bermusuhan. Sebut aja geng Rus yang bermusuhan dengan geng Samar. Suatu hari salah seorang dari geng Rus, sebut aja Jack, berangkat ke kota J. Dalam perjalanannya ke kota J, di tengah jalan si Jack dihadang rampok. Nggak hanya dirampok, tapi si Jack juga babak belur jadi bulan-bulanan para perampok. Setelah mengambil barang berharga dan mencelakai si Jack, para perampok meninggalkan si Jack begitu saja dalam keadaan luka parah.
Waktu si Jack dalam kondisi nggak berdaya dan butuh pertolongan, lewatlah seorang yang taat beribadah. Ia tahu kalau ada orang yang tergolek tak berdaya di pingir jalan. Tapi bukannya menolong, orang tersebut malah menghindari orang yang butuh pertolongan dan bergegas pergi menjauh. Dalam kesakitan, Jack terus merintih meminta tolong.
Kemudian ada seorang yang kelihatannya baik hati dan berpendidikan akan melewati jalan di mana Jack masih terbaring, luka parah. Namun begitu ia melihat dari kejauhan seperti ada orang yang terluka, berbaring di tepi jalan sambil merintih minta tolong, orang yang tampaknya berpendidikan dan baik hati ini malah menghindar. Ia bergegas pergi dan pura-pura tidak mendengar rintihan minta tolong si Jack. Putus asa, Jack terus merintih meminta pertolongan.
Nah, pada saat itu lewatlah salah seorang dari gang musuh yaitu dari geng Samar, bernama Yos. Ketika melalui jalan di mana Jack terbaring kesakitan, Yos mendengar ada orang yang merintih minta tolong. Yos mendekat ke arah Jack. Ia sangat kaget waktu melihat bahwa orang yang terluka parah dan merintih itu adalah musuhnya! Jack juga kaget ketika melihat Yos. Jack merasa riwayat hidupnya sampai di sini. Ia pasti akan dihabisi oleh Yos.
Tapi apa yang dilakukan oleh Yos? Yos langsung memberikan pertolongan sementara kepada Jack. Kemudian Yos mencari mobil tumpangan, untuk membawa mereka berdua ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai, Yos meminta dokter untuk merawat Jack sebaik-baiknya sampai sembuh. Dan Jack nggak perlu risau karena semua pengobatan Yos yang tanggung!
Guys, kualitas diri kita bukan hanya dinilai ketika kita taat beribadah, bukan juga seberapa baik kita menjalani hidup. Akan lebih lengkap ketika kita bisa memperlakukan orang lain, bahkan musuh yang sangat kita benci sebagai SESAMA MANUSIA. Cara kita memperlakukan sesama adalah bagian dari gaya hidup yang benar. Kalau kita tidak bisa mengasihi dan hidup berdamai dengan yang terlihat oleh mata kita, bagaimana kita bisa menyebut diri kita mengasihi Tuhan yang tak terlihat oleh mata? **(Ed-NW)
Fauziah - Semarang
Riska - Bandung