Hidup itu katanya penuh dengan pilihan. Ada pilihan yang baik, benar dan positif juga ada juga pilihan yang sebaliknya . Setiap hal yang saya pilih itu ada ganjarannya, ada konsekuensi yang bakal diterima waktu memutuskan dan melakukan pilihan itu.
Anehnya, saya tahu kalau saya memilih hal yang baik pasti akan berdampak baik buat hidup saya, tapi kenapa ya saya lebih sering memilih hal yang nggak baik malah cenderung jahat untuk dilakukan?
Kalau ada teman yang menjelek-jelekkan saya, saya cenderung mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap saya dan saya akan berpikir keras bagaimana membalasnya atau terus-terusan bersedih memikirkan `penghianatan` yang dilakukan oleh teman tanpa saya melakukan apapun untuk membereskan rasa sakit hati akibat perbuatan teman saya itu.
Waktu pacar selingkuh. Saya pun hanya menyalahkan diri sendiri dan cenderung menghukum diri sendiri dengan menutup diri. Kalau sudah menutup diri dan membiarkan diri menyendiri, pikiran saya akan berkembang bukan lagi menyalahkan diri sendiri tapi juga menyalahkan pacar saya yang selingkuh dari saya dan selingkuhannya. Setelah itu saya berpikir bagaimana membalas sakit hati saya, sampai akhirnya saya membalas sakit hati kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan mantan saya.
Kadang-kadang saya sering merasa sangat membenci seseorang yang kenal pun tidak! Di kelas, saya juga pernah mencotek. Berkata kasar dan melawan orang tua. Mengejek teman. Merasa sangat iri kalau ada temen yang berprestasi di sekolah lalu saya menyebarkan fitnah ke temen yang lain tentang temen yang berprestasi.
Wah kayaknya kalau ditulis satu per satu bakal banyak banget hal jelek, buruk, jahat yang pernah saya lakukan padahal saya sebetulnya sangat ingin melakukan hal yang baik. Kenapa saya jadi begini ya?
Akhirnya saya bisa mendapatkan jawabannya waktu saya membaca artikel yang ada kata-kata bijak ,”Karena semua orang telah berbuat dosa jadi akhirya telah kehilangan kemuliaan Allah”. WOW! Dalam banget kata-katanya. Jadi kenapa saya atau mungkin kamu juga cenderung melakukan hal yang jahat atau melakukan dosa? Ya, karena `kehilangan kemuliaan Allah`, seperti lebih memuliakan diri sendiri daripada memuliakanNYA.
Berarti satu-satunya jalan supaya saya bisa melakukan apa yang benar, apa yang baik dan apa yang positif, saya harus tahu dan mengenal terlebih dahulu SUMBER kemuliaan dan kebenaran. Akhirnya, pikiran saya dibukakan. Ternyata oh ternyata, sampai kapan pun saya nggak akan bisa konsisten melakukan apa yang benar, yang baik dan positif kalau saya memakai kekuatan saya sendiri. Bersyukur sekali, setelah bertemu dengan sumber kebenaran, akhirnya saya menemukan kembali kemuliaan Allah. Saya jadi ngerti mana yang benar untuk saya lakukan dan mana yang tidak. Bukan hanya itu saja bahkan ada kekuatan baru yang selalu menguatkan saya untuk tidak tergoda atau terjebak dengan godaan yang bisa membuat saya melakukan hal-hal yang tidak baik, tidak benar dan negatif. Pastinya, itu bukan dengan kekuatan sendiri lagi. Akhirnya saya terbebas dari kecenderungan untuk melakukan hal yang nggak benar, nggak baik dan nggak positif.**(ed-NW)
Fauziah - Semarang
Riska - Bandung