Kehidupanku yang sejahtera mendadak berubah drastis begitu papa menghadap Sang Khalik.
Kami kehilangan segalanya justru akibat orang-orang yang dianggap teman dan sahabat. Bahkan mereka tega memfitnah sekaligus mempermainkan kami. Hutang mereka tidak dibayar,malah berkata yang tidak-tidak.
Sungguh sakit hatiku. Duniaku serasa runtuh,hal-hal buruk yang dalam mimpi pun tidak pernah kulihat malah mengisi hari-hariku.
Akibat depresi berat yang kualami,asmaku menjadi akut sehingga aku sama sekali tidak dapat bernafas. Akibatnya, aku harus dilarikan ke UGD.
Puji Tuhan,Pak Trinoto menolongku dalam membiayai pengobatan,karena pada saat itu mama tidak punya uang.
Beberapa hari kemudian, dalam sebuah acara ibadah,Pak Gustianto mengubah cara pandangku yang sudah curiga berat dengan orang-orang di sekitarku. Beliau memintaku memanggilnya papa… Panggilan yang sudah lama sekali tidak keluar dari mulutku.
Peristiwa yang tampak sederhana tersebut membuatku berani terbuka pada sahabat-sahabatku.
Mereka memang terkejut mengetahui keadaanku saat ini. tapi, justru persahabatan kami semakin bermakna,mereka memang sahabat sejati.
Haris,Zem,Agnes,Yuna,Ririn,mereka semua membawaku dalam berbagai kegiatan ibadah dan pelayanan sehingga spritualku perlahan semakin dikuatkan. Hingga aku bergabung dalam sebuah kelompok persekutuan,di sana anggotanya hampir seluruhnya baru aku kenal.
Rasa canggung dan minder menghadapi mereka benar-benar cair karena mereka ternyata sangat mendukung dan menguatkanku. Aku sadar, aku tidak sendirian.
Karena Tuhan Yesus mengutus Malaikat-Malaikat-Nya untuk menuntunku kembali berjalan bersama-Nya.
#from Risang Bayu Citra Saptadi
Fauziah - Semarang
Riska - Bandung